Problematika Dan Solusi Sukses Pada Sektor Pertanian Padi

Diskusi

Problematika Dan Solusi Sukses Pada Sektor Pertanian Padi

Di negara agraris yang memiliki kesuburan tanah terjadi rawan pangan dan sebagian besar rakyatnya hidup dipedesaan yang bermatapencaharian dari bertani hidupnya miskin karena sektor pertanian padi tidak menarik.

Akibatnya pendapatan hasil usaha tani padi rendah, tidak ada perangsang produksi bagi petani sehingga:

  1. Motivasi dan etos kerja menjadi rendah
  2. SDM Petani tua penguasaan teknologi rendah
  3. Alih fungsi lahan sawah (dijual atau diganti jenis tanaman lain)

Akibatnya:

  1. Penyempitan lahan sawah dimana rata-rata kepemilikan lahan sawah petani menjadi 0.3 HA/Petani.
  2. Kebiasaan menjual saat panen raya, dimana saat terjadi harga murah.
  3. 60% menjadi petani netto yaitu petani padi menjadi pembeli beras sementara harga beras dipasar mahal.

Akhirnya:

  1. Pendapatan riil petani turun
  2. Petani rawan daya beli
  3. Tidak mampu beli pupuk
  4. Pengembalian KUT tidak lancar

Program KUT terhambat proses produksi pertanian tidak sesuai pola penanaman yang dianjurkan, sehingga produktivitas hasil usaha tani padi turun karena produktivitas turun maka terjadilah rawan pangan.

Untuk mengatasi terjadinya rawan pangan maka Pemerintah mencanangkan GEMA PALAGUNG 2001 yaitu gerakan mandiri untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional melalui pemberdayaan Masyarakat dan Petani, yang harus di capai tahun 2001.

Sasarannya
Tercapainya Swasembada dan Surplus Pangan tahun 2001

Untuk Mewujudkan
Dilakukan upaya khusus melalui:

  1. Peningkatan intensitas pertanaman
  2. Perluasan areal pertanaman
  3. Peningkatan mutu intensifikasi

Kondisinya Saat Ini
Petani berlahan sempit, ditambah penguasaan teknologi rendah, akan menghasilkan produktivitas yang rendah, sehingga pendapatanya pun akan semakin rendah. Sementara telah terbukti bahwa meningkatnya produktivitas petani padi tidak menjadikan meningkatnya pendapatan petani. Sebab harga yang diterima petani tetap rendah, merugikan bagi petani padi. Sehingga sektor pertanian padi tidak memiliki perangsang produksi bagi petani.

Yang menjadi perangsang produksi bagi petani adalah meningkatnya pendapatan hasil usaha tani padi, akibat tidak adanya faktor perangsang produksi / pemberdayaan ekonomi petani padi merupakan akar permasalahan yang harus diatasi.

Jika pendapatan hasil usaha tani padi rendah, karena menjual hasil usaha tani padi berupa gabah di Desa dan memperoleh harga yang rendah dan tidak adil, masalah ini merupakan akar permasalahan terjadinya rawan pangan, padahal harga beras melambung tinggi di kota.

Atas dasar itu maka upaya yang harus dilakukan adalah penyelesaian pada akar permasalahan dengan cara merubah kebiasaan petani dalam mengelola hasil usaha tani padi berupa menjual gabah menjadi menjual beras ke kota.

Bagaimana Caranya?

Sehubungan petani memiliki keterbatasan permodalan, ilmu pengetahuan dan SDM terampil. Sementara pola perdagangan beras saat ini terkotak-kotak dan terkonsentrasi di satu titik serta dikuasai oleh para konglomerat beras yang komunitasnya kecil kuat dalam modal, SDM, menguasai informasi dan pengetahuan lebih baik serta berpengalaman akan berupaya mempertahankan keberadaannya.

Untuk mengatasinya dibutuhkan kebersamaan semua pihak untuk melakukan segala upaya yang terukur dan terarah, serta fokus pada akar permasalahannya dengan melakukan segala percepatan-percepatan dan inovasi-inovasi sehingga terjadi pendistribusian pendapatan yang berkeadilan.

Kebersamaan seluruh potensi bangsa harus turut membantu petani padi dengan cara:

  1. Masyarakat sebagai konsumen dengan cara membeli beras yang di jual petani melalui Agen.
  2. Pedagang Sembako / Pedagang Beras dengan cara turut menjual beras yang di jual petani / sebagai Agen pemasaran.
  3. Para Ahli / Profesional dengan cara menjadikan beras petani lebih bersaing dengan memanfaatkan teknologi, kemudian merancang sistem pemasaran yang handal guna melakukan percepatan untuk mendukung dan mempercepat proses terjualnya beras petani.
  4. Pemilik Dana dengan cara menjadi investor.

Yang dimaksud upaya terukur adalah pemberdayaan ekonomi petani padi akan terjadi jika masyarakat / pedagang bersedia menjualkan beras petani atau menjadi Agen dan Masyarakat sebagai konsumen membeli beras petani di Agen-Agen.

Sementara upaya terarah artinya setiap konsep pemberdayaan ekonomi petani atau proses terjualnya beras harus mampu memperkenalkan paket-paket yang beraspek teknis atau mampu menunjukan cara terjualnya beras petani dalam mekanisme pasar beras dimana cara-cara tersebut / paket yang beraspek teknis itu harus melalui proses pengujian dikembangkan melalui riset disenyawakan pada kondisi nyata.

Dan fokus pada masalah artinya segala kebijaksanaan dan bentuk pembinaan serta kemitraan harus menimbulkan dampak terhadap terjadinya peningkatan pendapatan petani padi.

Untuk mewujudkan hal diatas dibutuhkan seorang wirausaha yang mengerti karakteristik dari pada produk, menguasai prilaku konsumen dan prilaku pedagang beras sehingga dapat merekayasa, merintis, merakit, menggerakan serta memandu proses bekerjanya sistem agribisnis padi yang berkeadilan.

→ Melalui tangan wirausaha dapat dirancang suatu sistem agribisnis yang padu karena masing-masing dari subsistem agribisnis melakukan fungsinya.

→ Mampu menunjukan keunggulan komparatif yang dimiliki petani yaitu sebagai pemilik produk yang memiliki karakteristik pasti laku karena dibutuhkan semua masyarakat sehingga menjadi potensi dan peluang usaha yang paling menguntungkan disegala kondisi. Karena sebagai peluang usaha akan menarik minat para investor untuk meraih peluang itu sehingga terwujud.

→ Kemudian seorang wirausaha harus mampu menunjukan cara tersebut agar pola kemitraan yang dilandasi hubungan bisnis yang saling membutuhkan dan menguntungkan sehingga kerjasama ini akan bersifat langgeng serta memiliki kepastian hukum.

Agar masalah pemberdayaan ekonomi petani padi segera terwujud, maka langkah yang harus dilakukan adalah memfungsikan koperasi-koperasi pertanian yang banyak dipedesaan supaya mampu menjalankan tugas pokoknya yaitu meningkatkan pendapatan petani padi. Adanya kelembagaan yang mampu melaksanakan tugas koperasi agribisnis secara efisien dan profesional menunjuk lembaga tersebut menjadi pengelola usaha koperasi pertanian.

Kemitraan kelembagaan yang menjadi mitra koperasi pertanian berupa Perseroan Terbatas dengan mayoritas kepemilikan saham adalah Petani dengan komposisi saham yang diusulkan:
→ Koperasi Agribisnis 51%
→ Yayasan Pemberdayaan Petani 9%
→ KPPI 5%
→ Investor pemilik modal dan manajemen 35%

Gunanya kepastian hukum untuk menarik investor membentuk budaya kerja yang baik, sehingga SDM terampil tertarik pengusaan teknologi dan penguasaan pasar dan menjamin hubungan kemitraan yang langgeng. Sehingga keterbatasan dalam pengembangan koperasi agribisnis teratasi.

Dengan pola kemitraan ini maka petani modern, tangguh dan efisien akan terwujud karena bantuan dari semua pihak. Agar tujuan koperasi agribisnis tercapai, maka koperasi agribisnis dalam menunjuk pengelola usaha harus meletakan pilihan kepada pengelola atas dasar kemampuan pengelola dalam memperkenalkan paket-paket yang berspek teknis dalam menjalankan tugas koperasi yaitu:

  1. Meningkatkan pendapatan petani
  2. Menyediakan pangan yang cukup
  3. Meningkatkan pendidikan

ARTINYA
Meningkatkan pendapatan petani terjadi jika:
→ Pendapatan petani padi sebelum ada koperasi tetap terjamin diperoleh dan terjadi penambahan dari keuntungan karena menjual beras.
→ Nilai tambah akan diraih petani jika pengelola mampu menunjukan cara menjual beras petani secara efisien dan profesional.

Menyediakan pangan yang cukup terjadi jika:
→ Setiap saat pangan sebagai kebutuhan pokok tersedia.
→ Pengelola akan menyediakannya melalui lumbung padi, dan jika perlu impor sendiri sehingga keuntungannya tetap masuk ke petani.

Proses Terjualnya Beras Pengolah Gabah Secara Efisien

Langkah pertama:
→ Pengelola menunjuk ahlinya yang berpengalaman dan terbiasa melakukan hal itu untuk menjadi mitra dalam mengolah gabah petani. Yaitu penggilingan padi.

→ Pengelola menawarkan kerjasama kepada penggilingan padi untuk menyewa atau membayar jasa penggilingan dalam mengelola gabah petani menjadi beras berkualitas dengan dibayar jasa penggilingan sebesar Rp75/kg.

Dasarnya:
Saat ini penggilingan padi merupakan bagian dari sistem agribisnis yang biasa membeli dan mengumpulkan gabah petani, kemudian menjemur dan mengolah gabah menjadi beras berkualitas untuk dijual, namun aktivitas mereka saat ini selalu dirugikan oleh pelaku lainnya dalam sistem agribisnis yaitu pedagang grosir dipasar induk Cipinang. Padahal penggilingan padi sudah bekerja secara efisien dan mampu mengembangkan teknologi tepat guna yang bisa menghasilkan beras berkualitas.

Biaya pengolahan / konversi saat ini setiap kg GKG dihitung Rp30/kg, jumlah ini sebenarnya tidak bisa menutupi ongkos pengolahan, namun mereka berharap bisa diganti dari perolehan by poduct, berupa katul dan sekam. Akan tetapi karena oposisi dipasar sebagai penerima harga maka by produk yang diharapkannya pun tidak bisa diraih.

Sehingga jika ada pihak yang menawarkan kerjasama untuk mengelola sampai menjadi beras dengan dibayarkan jasa sebesar Rp75/kg dan by product menjadi hak penggilingan padi maka akan banyak penggilingan padi yang berlomba-lomba ingin menjadi mitra usaha.

Sumber:
→ Materi Presentasi H. Iyus Ruslan, SE – Pemilik Rumah Makan Cibiuk

Tujuan di bagikan:
→ Untuk menambah wawasan dan pengetahuan bisnis bagi petani muda Indonesia

Lanjutkan Membaca
Anda mungkin juga suka...
Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Lebih banyak di Diskusi

To Top